Featured Post 6

VIDIO

Dikirim oleh Fauzi Baim pada 16 Maret 2016

sudah tinggal kenangan,

Dikirim oleh Fauzi Baim pada 13 Maret 2016

https://www.youtube.com/watch?v=tl3eRPL2m-8

Dikirim oleh Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat Desa Sukorejo Buduran Sidoarjo pada 17 Mei 2015

https://www.youtube.com/watch?v=tRHeKqpShvQ

Dikirim oleh Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat Desa Sukorejo Buduran Sidoarjo pada 16 Maret 2016

New Design

Recent Post

Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label BERITA. Tampilkan semua postingan
Selasa, 19 Juli 2016
MPLS DI SMAN3 SIDOAJO

MPLS DI SMAN3 SIDOAJO

Bertepatan dengan masuknya siswa baru, sekolah-sekolah yang ada di wilayah Sidoarjo dalam MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) atau yang dulu lebih dikenal dengan MOS (Masa Orientasi Sekolah) sebaiknya diisi dengan kegiatan, gerakan membaca buku.

Pasalnya, kondisi masyarakat sekarang ini sudah sangat minim sekali berminat untuk membaca buku, apalagi ‘serangan’ IT atau game-game di HP sudah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat, orang tua, remaja hingga anak-anak sekolah. Itulah harapan Muhammad Fauzi selaku penggerak Literasi Perpustakaan Kab Sidoarjo saat menjadi narasumber MPLS SMAN 3 Sidoarjo, Selasa (19/7) kemarin.


Pendiri Perpustakaan Taman Ilmu ini sangat prihatin dengan kondisi masyarakat yang sulit untuk minat membaca. Padahal berbagai instansi pemerintah maupun swasta sudah sering melakukan gerakan, melakukan sosialiasi betapa pentingnya membaca. ”Bahkan saya sendiri terus keliling menjajakan jamu sambil membawa buku, agar bisa dibaca oleh para pelanggan jamu walaupun hanya 10 menit hingga 20 menit saja,” katanya.

Sementara itu, pengelola Perpustakaan Sekolah SMAN 3 Sidoarjo, Yanti Kustanti mengaku kondisi pembaca buku di sekolah memang sangat minim, jika dibandingkan dengan jumlah seluruh siswa yang mencapai sekitar 1.000 siswa lebih. Tetapi jumlah peminat baca buku di perpustakaan sekolah per hari hanya sekitar 150 anak.

Padahal, sekolah sudah menyediakan seluruh fasilitas kebutuhan-kebutuhannya, mulai dari jumlah buku koleksi yang sudah mencapai sekitar 20 ribu exemplar. Termasuk fasilatias Wi Fi serta memenuhi kebutuhan anak-anak. ”Jadi, jika ada anak-anak meminta buku yang dibutuhkan, kami langsung mengajukan anggaran untuk dibelikan. Pihak sekolahan juga sangat mendukung sekali,” jelas Yanti Kustanti.
Maka dalam kesempatan MPLS kali ini kami menggandeng Muhammad Fauzi sebagai penggerak literasi di Sidoarjo, untuk memberi semangan anak-anak agar senang ke perpustakaan untuk membaca buku. ”Kegiatan ini diharapkan anak-anak lebih senang membaca buku. Eman sekali, sekolah mendukung kebutuhan perpustkaan, tetapi anak-anaknya malas membaca buku,” katanya.
Selain menghadirkan penggerak literasi perpustkaan, di SMAN 3 juga ada tim penggeraknya sendiri, yakni ‘Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo’. Mereka adalah Alifia Rachmawati Kelas XII Bahasa, Putri Septilia Kelas XII IPA 3 serta Ray Ayuning Galuh Salsabilah Kelas XI Bahasa, yang ikut memberikan semangat kepada 400 peserta MPLS agar murid-murid baru bergerak, sering hadir di perpustakaan untuk senang membaca buku.
Menurutnya, membaca buku sangat banyak sekali keuntungannya, bisa menambah ilmu tentang pendidikan sekolah maupun ilmu pengetahun umum. ”Selain itu juga untuk menambah teman, tentunya teman-teman untuk belajar bersama. Saya sendiri juga tidak menyangka kalau terpilih jadi Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo,” ujar putri Septilia usai memotivasi siswa baru.
sumber: birawa
Senin, 21 Maret 2016
Menikmati seteguk Literasi  di malam Puisi

Menikmati seteguk Literasi di malam Puisi



Berbicara tentang literasi untuk para pegiatnya memang tidak akan pernah bosan. Apalagi sekarang ini, literasi sudah menjadi endemi—yang mewabah menjadi salah satu ‘penyakit’—yang mudah menular dari satu orang ke orang lain. Kini literasi tidak hanya disukai oleh kalangan yang dekat dengan buku saja, masyakarat dari banyak tingkatan pun mulai terjangkiti ‘penyakit’ literasi. Wabah tersebut ternyata juga sampai di Kota Udang Sidoarjo, dan dibangunkan kembali oleh anak-anak muda yang menamakan diri sebagai Komunitas Malam Puisi Sidoarjo.
Shabrina yang pegang microfon

Malam Puisi Sidoarjo yang menyajikan acara sharing proses kreatif menulis dengan mengundang penulis berbakat dari Sidoarjo dan merayakan puisi ini digelar pada Minggu, 20 Maret 2016 dengan dihadiri oleh 20 peserta. Acara yang menyuguhkan cara mencintai literasi dengan unik ini sebelumnya sudah menyelenggarakan Malam Puisi Sidoarjo pertama dan kedua.

Sebelum memasuki proses sharing kreatif, terlebih dulu peserta yang hadir bergantian membacakan puisi-puisi sendiri ataupun puisi penyair nasional. Suasana malam dan aroma keheningan sangat menunjang kesyukukan acara. Ferdi Afrar salah satu peserta Malam Puisi Sidoarjo membacakan puisinya sendiri yang berjudul ‘Pintu’ sebagai pembuka acara. Disusul peserta lain seperti Asoka Ahmad, Denny Novita, dan lainnya yang juga turut merayakan puisi.Malam Puisi Sidoarjo yang mulus terlaksana di Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat Buduran Sidoarjo kali ini mengundang Shabrina WS penulis novel dan fabel dari Sidoarjo yang karyanya sudah bertebaran di toko buku nasional. Pada kesempatan ini, Shabrina berbagi ilmu menulis yang menarik kepada peserta. Menuliskan binatang sebagai salah satu tokoh dalam sebuah novel romance adalah hal yang bisa dibilang rumit tapi mengagumkan. Lebih mengagumkan lagi, karena melalui tulisan ia sembari mengampanyekan kecintaan terhadap satwa dengan cara yang berbeda. ia ingin menyentuh hati manusia agar mencintai satwa melalui karya.

Pada akhir acara, Shabrina menekankan agar tidak jemu berliterasi. “Usahakan selalu membaca dan menulis setiap hari walaupun sebentar dan sedikit,” lontarnya saat ditanya oleh salah satu peserta tentang bagaimana cara konsisten bertahan mencintai literasi. “Jangan lupa, menulislah apa yang kita tahu. Saya menulis tentang binatang, karena saya mencintainya. Saya ingin pembaca tahu, bahwa binatang jelas punya sudut pandang yang berbeda dengan kita,” lanjutnya memberi penjelasan.


SURYA ITU MENGELUARKAN CSRNYA

SURYA ITU MENGELUARKAN CSRNYA

Reportase : Aulia Nur Sahlina
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya

APA yang ada di pikiran ketika mendengar kata literasi? Banyak yang beranggapan literasi itu hal yang membosankan dan tak perlu diperhatikan terlalu dalam.
Modernisasi yang menawarkan segalanya serba mudah dan instan, menyisipkan dampak yang membawa masyarakat menuju pemikiran serba instan sekaligus menggiring pada keengganan untuk membaca. Padahal, kita tidak bisa menulis tanpa membaca, dan tidak bisa membaca tanpa adanya tulisan.
Idealnya, dengan teknologi bisa dimanfaatkan maksimal untuk semakin menggiatkan aktivitas literasi, mengingatkan betapa banyaknya manfaatnya berliterasi.


Inilah salah satu alasan yang melatari Harian Surya mengadakan sharing bersama jurnalisme warga (Citizen Reporter), Sabtu, 19 Maret 2016 di Kantor Harian Surya  Surabaya, bersama mahasiswa dan anggota Taman Ilmu Masyarakat (TIM) Sidoarjo.

Sharing kali ini yang dipandu Adi Sasono, manajer liputan Harian Surya dan Tri Hatma, editor rubrik Citizen Reporter Harian Surya, menitikberatkan pada apa yang harus dilakukan agar menjadi penulis yang baik dan menulis yang baik agar mudah dipahami pembaca.

Antusiasme ditunjukkan peserta dengan mengajukan pertanyaan seputar EYD, netralitas jurnalis, editorial, membuat tulisan yang baik dan menarik, jika ide buntu, dan masih banyak lagi. Salah satu peserta, Firosa Faizati, menyarankan agar acara seperti ini lebih sering diadakan dengan agenda yang lebih intensif lagi. Misalnya, peserta diajak membuat tulisan dengan tema-tema tertentu.
Testimoni manfaat literasi disampaikan Evie Suryani, penulis, pegiat dan pengajar literasi ini juga berbagi tip menulis dan menarik manfaat dari menulis. Pun Fauzi Baim, penulis otodidak yang ulet dan setia berliterasi. Pengakuan lain dipaparkan Rahadian Bagus Priyambodo, reporter Harian Surya yang bisa terbang ke Frankurt Book Fair 2015 gara-gara berliterasi.

“Karena berliterasi itu tak mengenal kasta, siapa saja bisa menulis apa saja,” yakin Evie Suryani, yang ikut serius menyemangati peserta untuk tidak pernah menyerah menulis.
Usai rehat salat dan makan, panitia memberi kesempatan peserta untuk mengambil tiga buku per orang. Tak tanggung-tanggung, doorprize berupa tiket nonton gratis di bioskop Tunjungan 21 Surabaya dan menginap di Hotel Sahid, Surabaya.
Wow, sungguh sabtu seru belajar literasi bersama Harian Surya.
Sumber harian surya.


Breaking News
Loading...
Quick Message
Press Esc to close
CERITAKU. KAMI UCAPKAN TERIMAKASIH UNTUK ANDA SEMUA YANG PEDULI PADA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN.