Featured Post 6

VIDIO

Dikirim oleh Fauzi Baim pada 16 Maret 2016

sudah tinggal kenangan,

Dikirim oleh Fauzi Baim pada 13 Maret 2016

https://www.youtube.com/watch?v=tl3eRPL2m-8

Dikirim oleh Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat Desa Sukorejo Buduran Sidoarjo pada 17 Mei 2015

https://www.youtube.com/watch?v=tRHeKqpShvQ

Dikirim oleh Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat Desa Sukorejo Buduran Sidoarjo pada 16 Maret 2016

New Design

Recent Post

Rabu, 16 November 2016
DAGANGANKU BERANTAKAN

DAGANGANKU BERANTAKAN


   Setelah beberapa minggu libur dari aktifitas jualan rutin, hari ini senin 14 November 2016 mulai berjualan lagi. Seperti halnya yang sudah-sudah, ketika mengawali jualan, tentunya semua bahan baku harus dibeli semua. Dan itu tidaklah dengan biaya yang sedikit. Malam sebelum berjualan kekasihku bertanya, mas apa besok modal kita akan kembali? sekarang jualankan musimnya sepi semua? sembari memblender kunyit. Insya Allah laris jawabku menenangkan. 


   Malam berjalan, kekasihku terlelap bersama sikecil di sampingnya. Diriku diliputi perasaan tak tenang dan gelisah. Duduk dan menghisap sebatang demi sebatang sebagai pengisi waktu agar kantuk segera datang. Ahhh kantukpun tak kunjung datang, akhirnya aku manfaatkan waktu tengah malamku untuk pembuatan jamu atau memasukkan kedalam botol-botol yang tampak mengkilap karena masih gres. Tak terasa jam hanphone sudah menunjukkan pukul 2 pagi lewat, kekasihku mungkin terkejut karena tidak mendapati aku yang seharusnya berada disampingnya. Dia berteriak dengan penuh keromantisan, maas sampean tilem binjeng sadean '' mas silahkan istirahat tidur besok jualan'' ucapnya. Akupun tak kuasa menolak permintaannya dan aku langsung tidur disampingnya, sembari bersembunyi dibalik selimut tebal warna kuning mentah.
    
    Mas-mas sampun subuh, kekasihku membangunkanku. Lalu aku bangun dan  bergegas mengambil wudlu untuk tunaikan sholat subuh berjamaah. Selepas sholat sayapun langsung melanjutkan pekerjaan semalam yang belum tuntas. Sedikit demi sedikit jamu itu saya tuangkan kedalam botol kemasan. Sementara kekasihku membungkusnya diplastik seperempatan, untuk tetangga yang menjualkan sebagaian daganganku.

   
  Pukul 05 47 semua persiapan telah tertunaikan, sayapun pamit seperti biasa pada kekasihku. tapi sebelum itu, dia saya suruh untuk memotret diriku yang berangkat jualan dari belakang. Dengan keyakinan dan rasa optimis yang sangat kuat, saya melajukan motor dengan cepat. Tak berselang lama, tibalah saya di depan pabrik MPI Desa Karangbong gedangan. Melihat karyawan ada yang masuk, hati saya sangat senang. Bismillah saya turun dari sepeda motor.



   Sekitar 20 menit, masih duduk diatas batu seukuran 2x bola basket namun bentuknya agak lonjong. Barulah ada pembeli yang datang. Alhamdulilah dapat penglaris lima ribu. Ibu yang memelarisi daganganku masih belum pergi jauh. Tiba-tiba rombong jamuku roboh dan jatuh keselokan. Untungnya selokan itu tidak ada airnya. Namun karena saya membawa bekal untuk cucian gelas, maka air itulah yang mengenai buku-buku yang ikut jatuh ke selokan. Basah, buku yang kubawa, karet, plastik dan daftar kartu peminjam buku. Aku tenangkan diriku, berusaha bersikap santai dan tidak terlalu terkejut. Ini untuk menutup atau mengurangi rasa malu, karena daganganku telah jatuh. 

      Dua gelas, jadi korban dalam tragedi ini, sudah tak terselamatkan lagi, sementara buku dan barang lain yang basah masih bisa aku bersihkan dengan kain lap yang kubawa. Perlahan aku naikkan rombongku, aku betulkan posisi motorku. lalu buku-buku dan jamu yang berada diselokan aku bersihkan semua. Ini adalah takdir tuhan dan kuasanya, aku tak akan mengutuk atau mensumpah serapah atas apa yang menimpaku barusan. Namun aku harus menerima, mungkin ini adalah sebagian ujian dari tuhan.

     Tak selang berapa lama, Alhamdulilah ada lagi pembeli. Total uang yang aku dapat di depan pabrik MPI hanya sepuluh ribu rupiah. Sekitar pukul delapan, karyawan pabrik juga sudah pada masuk, lalu aku putuskan seperti biasa melanjutkan keliling ke kampung-kampung. Ya Allah, lelah menyusuri jalanan, daganganku tidak ada yang beli. Ingat uang modal kulakan yang semalam, bagaimana aku bisa menerangkan pada isteriku, tentang hasil jualan hari ini.

   Sekitar pukul setengah 12, ada teman yang watsap ingin membeli jamuku. Akupun langsung meluncur ke sekolahan tempat dia mengajar. Alhamdulilah, disana aku dapat uang 50 ribu. Ngobrol kanan dan kiri, tentang buku dan jamu, tak terasa waktu sudah menunjuk angka satu. Mau tidak mau aku harus cepat pulang, karena tidak biasanya aku pulang diatas jam dua belas. Lngit mendung yang siap menumpahkan air kenikmatannya, aku terjang saja, berharap sudah bisa sampai dirumah sebelum air turun.

    Baru sekitar limaratus meter dari sekolah tempat temanku mengajar tadi, langit telah mencurahkan airnya. Aku lajukan motorku dengan cepat, berharap bisa dapat tempat berteduh untuk menyelamatkan buku-buku yang ada digerobak jamuku. Hidup tidaklah bisa selalu mendapatkan apa yang diharap. Air hujan kian deras, aku baru mendapatkan tempat berteduh di tempat cucian motor. Alhamdulilah, walau bajuku radak basah, dan sebagian buku yang diatasnya juga basah, rada tenag udah dapat tempat berteduh yang nyaman, setidaknya di tempat berteduh ini, juga menjual kopi yang bisa menghangatkan tubuhku.

    Angin bertiup kencang dan hujannya semakin deras. Arah angin yang membawa hujan juga mengenai buku-bukuku. Aku tak berdaya, karena tak mungkin aku mendapatkan penutup untuk menyelamatkan buku-buku tersebut. Menangis dalam hati, iya, aku menangis. Cengeng juga diriku. Padahal sebagai lelaki, aku gak boleh nangis, tapi untungnya tak ada orang yang berteduh sepertiku yang melihat ketika aku menangis meratapi buku-buku yang basah.

    Adzan ashar sudah berkumandang, hujan reda setelahnya. Aku bergegas untuk pulang. Cacing dalam perut sudah berteriak-teriak minta hidangan, maklum, seharian dia hanya kemasukan kopi dan es pemberian satpam di sekolah temanku tadi. Serasa mau pingsan, perut melilit sakit, maahku kambuh kayaknya. Tak lupa aku ambil uang selembar seratus ribu di Atm, ini akan aku berikan pada isteriku, aku gak tega jika harus mengatakan jualan pertama sangatlah sepi. Aku berbohong ya aku berbohong dan itu memang sering aku lakukan ketika jualan sepi. Karena aku hanya tidak tega melihat isteriku tampak sedih, melihat aku pulang bawa uang sedikit. Aku berharap, dengan uang ini dia bisa tersenyum dan tidak lelah dalam memproduksi jamu yang dibuatnya dengan penuh cinta dan doa kesembuhan untuk para pembelinya.

   Setiba dirumah, aku langsung minum segelas air hangat dan melanjutkan mandi. 

Itulah sebagian kisah, yang sering aku alami.@ fauzi penjual jamu

      






Selasa, 19 Juli 2016
MPLS DI SMAN3 SIDOAJO

MPLS DI SMAN3 SIDOAJO

Bertepatan dengan masuknya siswa baru, sekolah-sekolah yang ada di wilayah Sidoarjo dalam MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) atau yang dulu lebih dikenal dengan MOS (Masa Orientasi Sekolah) sebaiknya diisi dengan kegiatan, gerakan membaca buku.

Pasalnya, kondisi masyarakat sekarang ini sudah sangat minim sekali berminat untuk membaca buku, apalagi ‘serangan’ IT atau game-game di HP sudah menjalar ke seluruh lapisan masyarakat, orang tua, remaja hingga anak-anak sekolah. Itulah harapan Muhammad Fauzi selaku penggerak Literasi Perpustakaan Kab Sidoarjo saat menjadi narasumber MPLS SMAN 3 Sidoarjo, Selasa (19/7) kemarin.


Pendiri Perpustakaan Taman Ilmu ini sangat prihatin dengan kondisi masyarakat yang sulit untuk minat membaca. Padahal berbagai instansi pemerintah maupun swasta sudah sering melakukan gerakan, melakukan sosialiasi betapa pentingnya membaca. ”Bahkan saya sendiri terus keliling menjajakan jamu sambil membawa buku, agar bisa dibaca oleh para pelanggan jamu walaupun hanya 10 menit hingga 20 menit saja,” katanya.

Sementara itu, pengelola Perpustakaan Sekolah SMAN 3 Sidoarjo, Yanti Kustanti mengaku kondisi pembaca buku di sekolah memang sangat minim, jika dibandingkan dengan jumlah seluruh siswa yang mencapai sekitar 1.000 siswa lebih. Tetapi jumlah peminat baca buku di perpustakaan sekolah per hari hanya sekitar 150 anak.

Padahal, sekolah sudah menyediakan seluruh fasilitas kebutuhan-kebutuhannya, mulai dari jumlah buku koleksi yang sudah mencapai sekitar 20 ribu exemplar. Termasuk fasilatias Wi Fi serta memenuhi kebutuhan anak-anak. ”Jadi, jika ada anak-anak meminta buku yang dibutuhkan, kami langsung mengajukan anggaran untuk dibelikan. Pihak sekolahan juga sangat mendukung sekali,” jelas Yanti Kustanti.
Maka dalam kesempatan MPLS kali ini kami menggandeng Muhammad Fauzi sebagai penggerak literasi di Sidoarjo, untuk memberi semangan anak-anak agar senang ke perpustakaan untuk membaca buku. ”Kegiatan ini diharapkan anak-anak lebih senang membaca buku. Eman sekali, sekolah mendukung kebutuhan perpustkaan, tetapi anak-anaknya malas membaca buku,” katanya.
Selain menghadirkan penggerak literasi perpustkaan, di SMAN 3 juga ada tim penggeraknya sendiri, yakni ‘Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo’. Mereka adalah Alifia Rachmawati Kelas XII Bahasa, Putri Septilia Kelas XII IPA 3 serta Ray Ayuning Galuh Salsabilah Kelas XI Bahasa, yang ikut memberikan semangat kepada 400 peserta MPLS agar murid-murid baru bergerak, sering hadir di perpustakaan untuk senang membaca buku.
Menurutnya, membaca buku sangat banyak sekali keuntungannya, bisa menambah ilmu tentang pendidikan sekolah maupun ilmu pengetahun umum. ”Selain itu juga untuk menambah teman, tentunya teman-teman untuk belajar bersama. Saya sendiri juga tidak menyangka kalau terpilih jadi Duta Baca SMAN 3 Sidoarjo,” ujar putri Septilia usai memotivasi siswa baru.
sumber: birawa
Senin, 20 Juni 2016
no image

STASIUN BACA TULIS DI SIDOARJO


KOMUNITAS stasiun baca tulis atau Stabatu yang berlokasi di Desa SukorejoBuduran, Sidoarjo ini bisa menjadi alternatif baru bagi pegiat literasi yang berlokasi di kota udang dan sekitarnya untuk berkumpul mengembangkan budaya literasi.

Pejuang literasi di jalan sunyi, menjadi motto utama komunitas Stabatu yang kelahirannya dibidani Fauzi Baim. Motto tersebut menjadi pilihan karena kegiatan perpustakaan keliling, menulis, membaca dan membuat blog ini bersifat relawan bukan gerakan profit.
Lewat agenda utama Stabatu itu diharapkan bisa meningkatkan kemampuan anggota yang tergabung, karena setiap anggota memiliki kapasitas dan kemampuan berbeda-beda. Selain, memberikan kemanfaatan untuk masyarakat luas, doar Antoni Prasetyo, anggota komunitas dalam pertemuan awal Juni 2016 lalu di sekretariat Stabatu.
Saat ini, Stabatu fokus pada peningkatan budaya baca karena budaya baca harus lebih ditingkatkan lagi guna mencapai masyarakat yang cerdas dan madani.
Nantinya, Stabatu akan memberikan pelatihan menulis di sekolah-sekolah di Sidoarjo, janji Dien Ilmi, penulis yang tergabung dalam Stabatu.

Sementara pemerhati budaya baca, Antoni Prasetyo, menambahkan, anggota Stabatu harus fokus dan menemukan formula unik serta efektif sesuai dengan karakter masyarakat dalam peningkatan budaya baca. Harapannya penyebaran informasi dan ilmu pengetahuan bisa secepatnya didapatkan masyarakat.
Rabu, 15 Juni 2016
Selasa, 17 Mei 2016
no image

FLP SIDOARJO PERINGATI HARI BUKU

 Alhamdulilah,kemarin 15-05-2016 bisa bertatap muka langsung dengan peserta pada seminar yang diadakan oleh FLP SIDOARJO . Seminar yang digelar dikantor pemkab Sidoarjo ini, bagi saya merupakan salah satu acara yang sangat keren. Peserta yang banyak dan cukup konsen mendengarkan serta memperhatikan para pemateri.

    Acara yang kebetulan saya sendiri dan rafif ahnaf sebagai pengisi acara disesi kedua. Untuk saya sebagai pengisi acara sesi pertama, tentunya selalu berhubungan dengan buku, sedangkan rafif ahnaf yang pada sesi ke dua membagikan materi seputaran trik kepenulisan, termasuk bagaimana cara mengatasi kebuntuan ketika menulis.

   Digelarnya acara ini, dalam rangka memperingati hari buku yang jatuh pada tanggal 17 mei . Sekaligus menjaring angota baru FLP karena para peserta diharapkan bisa bergabung dan menjadi anggota, sehingga FLP bisa terus memiliki generasi.


TERIMAKASIH UNTUK FLP SIDOARJO.

















UNTUK MELIHAT VIDEONYA SILAHKAN KLIK DI SINI
Selasa, 22 Maret 2016
22 MARET 2016

22 MARET 2016

Kegelisahanku semalam, karena tak ada yang dimakan untuk hari ini. Aku tak tau harus berbuat apa. Kucoba tawarkan televisi jadul pada seorang teman. Alhamdulilah, walau dia tidak membeli televisi tersebut, tapi dia mentransfer uang kerekeningku. Alhamdulilah.

Jika aku ingat tadi pagi, dimana istriku hanya mngupas ketela pemberian salah satuwali murid paud. Ini untuk makan kita hari ini, hatiku nangis dan tak tega, aku kasihkan beberapa lembar uang padanya dan langsunglah ia mengucap syukur dan langsung belanja.

Ini adalah anugrah tuhan, rezeki yang tak terduga. Tidak jadi makan ketela, istriku belanja ikan mujahir dan tahu. alhamdulilah.
Senin, 21 Maret 2016
20 MARET 2016

20 MARET 2016

Seharian disibukkan dengan persiapan untuk gelar malam puisi. Istrikupun tak seperti biasanya karena tak bertanya nanti akan disuguhin apa. Mungkin dia sudah tau, kalo diriku tak punya uang. Dengan cekatannya istriku membuat kue untuk suguhan yaitu kue mutiara yang terbungkus daun pisang dan juga buat gudir.

Diriku walau terlihat tenang, namun pada dasarnya sangat gelisah, karena air dan kopi serta kue belum terbeli. Alhamdulilah bang antoni sore hari setelah seharian berada dirumah untuk ngeprint memberikanku uang seratus ribu, aku belikan lampu, air mineral, rambutan dan gorengan. Plong rasanya beban yang ada di pikiran.

Acaranyapun berlangsung lancar, walau tak semeriah biasanya. Tapi hatiku sebagai tuan rumah sungguh sangat puas sekali.
no image

SABTU 19 MARET 2016

Acara JURANLISTIK, sungguh sangat mewah dan berkesan, dalam acara yang dihadiri puluhan mahasiswa dan teman-temanku yang ingin mendapatkan ilmu jurnalistik. Tapi beberapa hari sebelum itu, aku sebenarnya sangat tidak punya uang. Bahkan untuk mengambil banner yang sudah terpesanpun.


Tapi alhamdulilah ada teman yang membantuku untuk biaya cetak itu. Plong dan lega rasanya. Bersama ilmi dan mamanya putri, kita berangkat bareng start di depan masjid buduran. Dari situ kita berangkat bareng. Malang dan jadi kebiasaan, saking seringnya tersesat, untuk kali inipun sama, ilmi yang melaju di depanku, sudah tidak tampak lagi. Alhasil aku tersesat, tapi untungnya ilmi putar balik dan melihatku. Alhamdulilah, aku hanya tidak habis pikir andaikata ilmi tidak putar arah dan menjemputku, padahal diriku tidak punya handphone. pastinya aku akan sangat kesusahan untuk mencari alamat kantor koran surya.

Sepulang dari pelatihan, kita semua mampir dirumah khanis selasih, disana kita banyak bercerita tentang keseruan acara, dan khanispun memberikan hanphone untuk diriku. Inilah berkah kehidupan, pulang membawa hanphone dan buku-buku yang banyak pemberian dari ibu trihatma ningsih.
Menikmati seteguk Literasi  di malam Puisi

Menikmati seteguk Literasi di malam Puisi



Berbicara tentang literasi untuk para pegiatnya memang tidak akan pernah bosan. Apalagi sekarang ini, literasi sudah menjadi endemi—yang mewabah menjadi salah satu ‘penyakit’—yang mudah menular dari satu orang ke orang lain. Kini literasi tidak hanya disukai oleh kalangan yang dekat dengan buku saja, masyakarat dari banyak tingkatan pun mulai terjangkiti ‘penyakit’ literasi. Wabah tersebut ternyata juga sampai di Kota Udang Sidoarjo, dan dibangunkan kembali oleh anak-anak muda yang menamakan diri sebagai Komunitas Malam Puisi Sidoarjo.
Shabrina yang pegang microfon

Malam Puisi Sidoarjo yang menyajikan acara sharing proses kreatif menulis dengan mengundang penulis berbakat dari Sidoarjo dan merayakan puisi ini digelar pada Minggu, 20 Maret 2016 dengan dihadiri oleh 20 peserta. Acara yang menyuguhkan cara mencintai literasi dengan unik ini sebelumnya sudah menyelenggarakan Malam Puisi Sidoarjo pertama dan kedua.

Sebelum memasuki proses sharing kreatif, terlebih dulu peserta yang hadir bergantian membacakan puisi-puisi sendiri ataupun puisi penyair nasional. Suasana malam dan aroma keheningan sangat menunjang kesyukukan acara. Ferdi Afrar salah satu peserta Malam Puisi Sidoarjo membacakan puisinya sendiri yang berjudul ‘Pintu’ sebagai pembuka acara. Disusul peserta lain seperti Asoka Ahmad, Denny Novita, dan lainnya yang juga turut merayakan puisi.Malam Puisi Sidoarjo yang mulus terlaksana di Perpustakaan Taman Ilmu Masyarakat Buduran Sidoarjo kali ini mengundang Shabrina WS penulis novel dan fabel dari Sidoarjo yang karyanya sudah bertebaran di toko buku nasional. Pada kesempatan ini, Shabrina berbagi ilmu menulis yang menarik kepada peserta. Menuliskan binatang sebagai salah satu tokoh dalam sebuah novel romance adalah hal yang bisa dibilang rumit tapi mengagumkan. Lebih mengagumkan lagi, karena melalui tulisan ia sembari mengampanyekan kecintaan terhadap satwa dengan cara yang berbeda. ia ingin menyentuh hati manusia agar mencintai satwa melalui karya.

Pada akhir acara, Shabrina menekankan agar tidak jemu berliterasi. “Usahakan selalu membaca dan menulis setiap hari walaupun sebentar dan sedikit,” lontarnya saat ditanya oleh salah satu peserta tentang bagaimana cara konsisten bertahan mencintai literasi. “Jangan lupa, menulislah apa yang kita tahu. Saya menulis tentang binatang, karena saya mencintainya. Saya ingin pembaca tahu, bahwa binatang jelas punya sudut pandang yang berbeda dengan kita,” lanjutnya memberi penjelasan.


SURYA ITU MENGELUARKAN CSRNYA

SURYA ITU MENGELUARKAN CSRNYA

Reportase : Aulia Nur Sahlina
Mahasiswa Sastra Indonesia Universitas Airlangga Surabaya

APA yang ada di pikiran ketika mendengar kata literasi? Banyak yang beranggapan literasi itu hal yang membosankan dan tak perlu diperhatikan terlalu dalam.
Modernisasi yang menawarkan segalanya serba mudah dan instan, menyisipkan dampak yang membawa masyarakat menuju pemikiran serba instan sekaligus menggiring pada keengganan untuk membaca. Padahal, kita tidak bisa menulis tanpa membaca, dan tidak bisa membaca tanpa adanya tulisan.
Idealnya, dengan teknologi bisa dimanfaatkan maksimal untuk semakin menggiatkan aktivitas literasi, mengingatkan betapa banyaknya manfaatnya berliterasi.


Inilah salah satu alasan yang melatari Harian Surya mengadakan sharing bersama jurnalisme warga (Citizen Reporter), Sabtu, 19 Maret 2016 di Kantor Harian Surya  Surabaya, bersama mahasiswa dan anggota Taman Ilmu Masyarakat (TIM) Sidoarjo.

Sharing kali ini yang dipandu Adi Sasono, manajer liputan Harian Surya dan Tri Hatma, editor rubrik Citizen Reporter Harian Surya, menitikberatkan pada apa yang harus dilakukan agar menjadi penulis yang baik dan menulis yang baik agar mudah dipahami pembaca.

Antusiasme ditunjukkan peserta dengan mengajukan pertanyaan seputar EYD, netralitas jurnalis, editorial, membuat tulisan yang baik dan menarik, jika ide buntu, dan masih banyak lagi. Salah satu peserta, Firosa Faizati, menyarankan agar acara seperti ini lebih sering diadakan dengan agenda yang lebih intensif lagi. Misalnya, peserta diajak membuat tulisan dengan tema-tema tertentu.
Testimoni manfaat literasi disampaikan Evie Suryani, penulis, pegiat dan pengajar literasi ini juga berbagi tip menulis dan menarik manfaat dari menulis. Pun Fauzi Baim, penulis otodidak yang ulet dan setia berliterasi. Pengakuan lain dipaparkan Rahadian Bagus Priyambodo, reporter Harian Surya yang bisa terbang ke Frankurt Book Fair 2015 gara-gara berliterasi.

“Karena berliterasi itu tak mengenal kasta, siapa saja bisa menulis apa saja,” yakin Evie Suryani, yang ikut serius menyemangati peserta untuk tidak pernah menyerah menulis.
Usai rehat salat dan makan, panitia memberi kesempatan peserta untuk mengambil tiga buku per orang. Tak tanggung-tanggung, doorprize berupa tiket nonton gratis di bioskop Tunjungan 21 Surabaya dan menginap di Hotel Sahid, Surabaya.
Wow, sungguh sabtu seru belajar literasi bersama Harian Surya.
Sumber harian surya.


Breaking News
Loading...
Quick Message
Press Esc to close
CERITAKU. KAMI UCAPKAN TERIMAKASIH UNTUK ANDA SEMUA YANG PEDULI PADA PENGEMBANGAN PENDIDIKAN.